Sejarah Gunung Merbabu: Dari Mitos Kuno hingga Aktivitas Modern
Sejarah Gunung Merbabu, layaknya gunung berapi lainnya di Indonesia, tidak hanya mencakup catatan geologis tentang pembentukannya, tetapi juga kaya akan cerita rakyat, mitos, dan peran penting dalam kehidupan masyarakat sekitarnya.
Nama “Merbabu” yang kita kenal sekarang dipercaya berasal dari gabungan kata “meru” (gunung atau pusat dunia dalam kepercayaan Hindu) dan “abu” (mengacu pada warna abu setelah letusan atau kondisi gunung yang sering diselimuti kabut). Nama ini mulai dikenal luas melalui catatan-catatan Belanda.
Namun, jauh sebelum itu, dalam naskah-naskah masa pra-Islam, Gunung Merbabu dikenal dengan nama-nama lain seperti Gunung Damalung atau Gunung Pamarihan. Pada abad ke-15, di lerengnya pernah terdapat pertapaan terkenal yang disinggahi oleh seorang pujangga bernama Bujangga Manik, menunjukkan bahwa Merbabu telah lama dianggap sebagai tempat suci dan spiritual.
Gunung Merbabu adalah gunung berapi bertipe Stratovolcano, sama seperti Gunung Merapi di sebelahnya. Pembentukannya terjadi seiring dengan proses geologis di Pulau Jawa, terutama akibat penunjaman Lempeng Indo-Australia ke bawah Lempeng Eurasia.
Aktivitas vulkanik awal Merbabu diperkirakan membentuk kawah-kawah tua, seperti Kawah Merbabu Tua dan Kawah Merbabu Muda. Kawah Merbabu Muda, yang terletak di timur laut Kawah Merbabu Tua, masih memperlihatkan bentuk yang hampir sempurna dan menunjukkan sisa aktivitas berupa alterasi. Ada juga Kawah Puasa yang merupakan kawah dari kerucut erupsi samping.
Meskipun saat ini Merbabu dikenal sebagai gunung yang "tidur" atau tidak menunjukkan aktivitas vulkanik yang eksplosif, gunung ini memiliki catatan letusan di masa lalu:
Tahun 1570: Ada laporan letusan pada tahun ini, namun belum ada konfirmasi dan penelitian lebih lanjut.
Ini adalah letusan terakhir yang tercatat. Erupsi ini berpusat di sistem rekahan yang memotong puncak Merbabu, menghasilkan aliran lava ke arah Kopeng (utara) dan Kajor (selatan).
Merbabu dianggap sebagai tempat yang sakral dan sering menjadi tujuan para pertapa untuk mencari pencerahan. Beberapa puncaknya, seperti Puncak Kenteng Songo dan Puncak Syarif, dianggap memiliki nilai spiritual khusus.
Masyarakat lokal, khususnya di daerah Selo dan sekitarnya, masih rutin melaksanakan berbagai tradisi dan ritual sebagai bentuk penghormatan dan syukur kepada alam. Contohnya adalah tradisi 15 Suro dan ritual Bersih Desa atau Sedekah Gunung yang melibatkan pemberian sesaji dan kegiatan gotong royong.
Banyak mata air penting yang bersumber dari Merbabu dan dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar untuk kebutuhan sehari-hari, pertanian, dan upacara adat. Hal ini menunjukkan ketergantungan erat masyarakat pada sumber daya alam dari gunung ini.
Kesenian: Kesenian lokal seperti Topeng Ireng, Reog, Gedrug, dan Ndolalak juga sering ditampilkan dalam berbagai perayaan yang berkaitan dengan keberadaan Merbabu, menunjukkan kekayaan budaya yang terinspirasi dari gunung ini.
Kesenian: Kesenian lokal seperti Topeng Ireng, Reog, Gedrug, dan Ndolalak juga sering ditampilkan dalam berbagai perayaan yang berkaitan dengan keberadaan Merbabu, menunjukkan kekayaan budaya yang terinspirasi dari gunung ini.
By Fiktor Yosua Lobo (732023021)
© Made By ❤️ Mendaki Merbabu