SEJARAH

Sejarah Gunung Merbabu: Dari Mitos Kuno hingga Aktivitas Modern

Sejarah Gunung Merbabu, layaknya gunung berapi lainnya di Indonesia, tidak hanya mencakup catatan geologis tentang pembentukannya, tetapi juga kaya akan cerita rakyat, mitos, dan peran penting dalam kehidupan masyarakat sekitarnya.

Asal-Usul Nama dan Naskah Kuno

Nama “Merbabu” yang kita kenal sekarang dipercaya berasal dari gabungan kata “meru” (gunung atau pusat dunia dalam kepercayaan Hindu) dan “abu” (mengacu pada warna abu setelah letusan atau kondisi gunung yang sering diselimuti kabut). Nama ini mulai dikenal luas melalui catatan-catatan Belanda.

Namun, jauh sebelum itu, dalam naskah-naskah masa pra-Islam, Gunung Merbabu dikenal dengan nama-nama lain seperti Gunung Damalung atau Gunung Pamarihan. Pada abad ke-15, di lerengnya pernah terdapat pertapaan terkenal yang disinggahi oleh seorang pujangga bernama Bujangga Manik, menunjukkan bahwa Merbabu telah lama dianggap sebagai tempat suci dan spiritual.

Pembentukan Geologis

Gunung Merbabu adalah gunung berapi bertipe Stratovolcano, sama seperti Gunung Merapi di sebelahnya. Pembentukannya terjadi seiring dengan proses geologis di Pulau Jawa, terutama akibat penunjaman Lempeng Indo-Australia ke bawah Lempeng Eurasia.

Aktivitas vulkanik awal Merbabu diperkirakan membentuk kawah-kawah tua, seperti Kawah Merbabu Tua dan Kawah Merbabu Muda. Kawah Merbabu Muda, yang terletak di timur laut Kawah Merbabu Tua, masih memperlihatkan bentuk yang hampir sempurna dan menunjukkan sisa aktivitas berupa alterasi. Ada juga Kawah Puasa yang merupakan kawah dari kerucut erupsi samping.

Tempat Sakral

 Merbabu dianggap sebagai tempat yang sakral dan sering menjadi tujuan para pertapa untuk mencari pencerahan. Beberapa puncaknya, seperti Puncak Kenteng Songo dan Puncak Syarif, dianggap memiliki nilai spiritual khusus.

Tradisi dan Ritual

Masyarakat lokal, khususnya di daerah Selo dan sekitarnya, masih rutin melaksanakan berbagai tradisi dan ritual sebagai bentuk penghormatan dan syukur kepada alam. Contohnya adalah tradisi 15 Suro dan ritual Bersih Desa atau Sedekah Gunung yang melibatkan pemberian sesaji dan kegiatan gotong royong.

Mata Air

Banyak mata air penting yang bersumber dari Merbabu dan dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar untuk kebutuhan sehari-hari, pertanian, dan upacara adat. Hal ini menunjukkan ketergantungan erat masyarakat pada sumber daya alam dari gunung ini.
Kesenian: Kesenian lokal seperti Topeng Ireng, Reog, Gedrug, dan Ndolalak juga sering ditampilkan dalam berbagai perayaan yang berkaitan dengan keberadaan Merbabu, menunjukkan kekayaan budaya yang terinspirasi dari gunung ini.

Kesenian

Kesenian: Kesenian lokal seperti Topeng Ireng, Reog, Gedrug, dan Ndolalak juga sering ditampilkan dalam berbagai perayaan yang berkaitan dengan keberadaan Merbabu, menunjukkan kekayaan budaya yang terinspirasi dari gunung ini.

By Fiktor Yosua Lobo (732023021)